Rabu, 03 Mei 2017

TULISAN 3

Jelaskan Mengenai BEP (Break Even Poin) & Contoh Kasus

            Break Even Point adalah suatu keadaan dimana perusahaan dalam operasinya tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian atau dengan kata lain total biaya sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak ada rugi. Hal ini bisa terjadi apabila perusahaan di dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan biaya variabel, dan volume penjualannya hanya cukup menutupi biaya tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup menutupi biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian. Sebaliknya, perusahaan akan memperoleh keuntungan, apabila penjualan melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang harus dikeluarkan.

        Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut, yaitu :

1.      Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas.
2.      Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki.
3.      Meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin.
        Dari ketiga langkah-langkah tersebut diatas tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah karena tiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang erat dan saling berkaitan. Pengaruh salah satu faktor akan membawa akibat terhadap seluruh kegiatan operasi. Oleh karena itu struktur laba dari sebuah perusahaan sering dilukiskan dalam break even point, sehingga mudah untuk memahami hubungan antara biaya, volume kegiatan dan laba.

       Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = Total biaya). Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost Volume Profit Analysis.

        Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :

1.      Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
2.      Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu.
3.      Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak menderita rugi.
      
 Menurut Purba (2002) Titik impas (break even) berlandaskan pada pernyataan sedarhana, berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.

        Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian.

        Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba tidak ada rugi.

        Menurut Garrison dan Noreen (2004) Break even point adalah tingkat penjualan yang diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya Tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah penjualan dan biasanya ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan, bukan fungsi dari waktu, misalnya biaya angkut barang.

        Apabila perusahaan mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan muncul masalah break even point dalam perusahaan tersebut. Masalah break even point baru akan muncul apabila suatu perusahaan disamping mempunyai biaya variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara totalitas akan berubah-ubah sesuai dengan volume produksi perusahaan, sedangkan besarnya biaya tetap sacara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada perubahan volume produksi.

        Karena adanya unsur biaya variabel disuatu sisi dan unsur biaya tetap disisi lain maka suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu menderita kerugian karena penjualan hanya menutupi biaya tetap. Ini berarti bahwa bagian dari hasil penghasilan penjualan yang tersedia hanya cukup untuk menutupi biaya tetap tetapi tidak cukup menutupi biaya variabelnya.

        Volume penjualan dimana penghasilan total sama besarnya dengan biaya totalnya, sehingga perusahaan tidak mencapai laba atau keuntungan dan tidak menderita kerugian disebut Break Even Point.

Asumsi dari Analisa Break Even
        Analisis Break Even Point berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhi. Asumsi-asumsi tersebut adalah :

Bahwa biaya pada berbagai tingkat kegiatan dapat diperkirakan jumlahnya secara tepat. Dengan demikian perubahan tingkat produksi dapat dijabarkan menjadi perubahan tingkat biaya.
1.      Biaya yang dapat diperkirakan itu dapat dipisahkan mana yang bersifat fariabel dan mana yang merupakan beban tetap (fixed cost). Analisa Break even hanya dapat dihitung bilamana sebagian biaya merupakan bebean tetap.
2.      Tingkat penjualan sama dengan tingkat produksi, artinya apa yang diproduksi dianggap terjual habis. Dengan demikian tingkat persediaan barang jadi tidak mengalami perubahan, atau perusahaan sma sekali tidak menyediakan stoc barang jadi.
3.      Harga jual produk perusahaan pada berbagai tingkat penjualan tidak mengalami perubahan. Ini berarti pasarnya demikian sempurna atau bahwa share pasaran perusahaan sedemikian kecilnyasehingga tidak akan mampu merubah harga pasar yang terjadi.
4.      Efesiensi perusahaan pada berbagai tingkat kegiatan juga tidak berubah, sehingga biaya variable setiap unit produk sama untuk berbagai volume produksi.
5.      Tidak terdapat perubahan pada berbagai kebijakan pimpinan yang secara langsung berpengaruh terhadap beban tetap keseluruhan. Dengan demikian biaya tetap keseluruhan juga tidak berubah.
6.      Perusahaan dianggap seakan-akan hanya menjual satu macam produk akhir. Bilamana dalam kenyataannya produk yang dibuat lebih dari satu macam, maka sales mix dipertahankan tetap sama.

       
 Di dalam kenyataan yang sebenarnya lebih banyak asumsi yang tidak dapat dipenuhi. Namun demikian perubahan asumsi ini tidak mengurangi validitas dan kegunaan analisa BEP sebagai suatu alat bantu pengambilan keputusan. Hanya saja diperlukan suatu modifikasi tertentu dalam penggunaannya.


Dalam menyusun perhitungan BEP, kita perlu menentukan dulu 3 elemen dari rumus BEP yaitu :
1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali
2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic, biaya nota penjualan
3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Adapun rumus untuk menghitung Break Even Point ada 2 yaitu :

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :
Total Fixed Cost
__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Contoh :
Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-
Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
Rp.200,000
__________ = 40 units
10,000 – 5,000
Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even point. Pada pejualan unit ke 41, maka took itu mulai memperoleh keuntungan

2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :
Total Fixed Cost
__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP adalah
Rp.200,000
__________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-
10,000 – 5,000

Sumber :
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/analisis-dan-asumsi-breakeven
https://irnawt.wordpress.com/2011/04/28/pengertian-definisi-dan-rumus-bep-break-even-point-4/

TUGAS 3

1. Jelaskan Mengenai Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
2. Analisis Perubahan Penghasilan dan Biaya


            Kas ( Cash) adalah aktiva lancar yang meliputi uang kertas/logam dan benda-benda lain yang dapat digunakan sebagai media tukar/alat pembayaran yang sah dan dapat diambil setiap saat. Kas adalah uang tunai yang paling likuid sehingga pos ini biasanya ditempatkan pada urutan teratas dari aset. Yang termasuk dalam kas adalah seluruh alat pembayaran yang dapat digunakan dengan segera seperti uang kertas, uang logam, dan saldo rekening giro di bank Uang tunai atau kas merupakan saldo sisa dari arus kas masuk dikurangi arus kas keluar yang berasal dari periode-periode lalu. Arus kas mengacu pada arus kas masuk dikurangi arus kas keluar pada periode berjalan. 
            Aliran dana yang terjadi di suatu perusahaan merupakan aliran keluar-masuknya dana (kas) yang ada di perusahaan yang bersangkutan. Dana yang masuk kedalam perusahaan merupakan dana yang berasal dari sumber dana perusahaan, baik sumber intern maupun sumber ekstern. Sedangkan dana yang keluar dari perusahaan merupakan penggunaan dana yang digunakan untuk operasi atau kegiatan perusahaan.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kas
Diantara factor – factor yang mempengaruhi jumlah persediaan kas adalah sebagai berikut:
1. Penyimpangan terhadap aliran kas yang diperkirakan, jumlah kas yang paling ideal sampai saat ini belum ada, tetapi telah terdapat beberapa pedoman untuk menentukan jumlah kas perusahaan. Hal ini dikemukakan oleh H. G. Guthmann bahwa jumlah kas yang ada di perusahaan hendaknya tidak kurang dari 5% - 10% dari jumlah aktiva lancer. Makin tinggi jumlah kas maka perusahaan semakin liquid dan sebaliknya.

2. Perimbangan antara aliran kas masuk dank as keluar. Seperti halnya persediaan kas juga memiliki persediaan bersih atau persediaan minimal yang disebut sebagai “safety cash balance” (merupakan jumlah kas minimal dari kas yang harus dipertahankan oleh perusahaan agar dapat memenuhi kewajiban finansialnya sewaktu-waktu.

3. Adanya penjualan yang baik. Jumlah kas dapat pula dihubungkan dengan salesnya (penjualan). Perbandingan antara penjualan dengan jumlah kas rata-rata menggambarkan tingkat perputaran kas. Makin tinggi turnovernya makin baik karena berarti makin efisien penggunaan kasnya.
 
C. Sumber Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Sumber Penerimaan Kas:
1. Berkurangnya Aktiva lancar selain kas.
a. Piutang, penagihan piutang akan menyebabkan turunnya jumlah piutang, sehingga akan meningkatkan jumlah kas.
b. Persediaan, adanya penjualan persediaan akan menyebabkan turunnya jumlah persediaan. Hasil penjualan persediaan tersebut akan meningkatkan jumlah kas.
c. Aktiva lancer lainnya, penurunan aktiva lancer lainnya dapat terjadi karena beberapa hal, tergantung bentuk pos – pos yang dimasukan kedalam golongan aktiva lancer lainnya tersebut. Namun perlu dicermati bahwa secara langsung ataupun tidak langsung adanya penurunan aktiva tersebut akan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah kas.

2. Penurunan/berkurangnya jumlah aktiva tetap. Penurunan aktiva tetap dapat disebabkan oleh dua hal yaitu adanya penjualan sebagian aktiva tetap tersebut atau karena penyusutan aktiva bersangkutan. Kedua hal tersebut akan menyebabkan meningkatnya jumlah kas.

3. Meningkat/ bertambahnya hutang. Apabila perusahaan memenuhi kebutuhan dana melalui hutang (baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang) akan meningkatkan jumlah hutang perusahaan. Adanya peningkatan jumlah hutang tersebut akan meningkatkan jumlah kas, yang nantinya digunakan untuk operasional perusahaan.

4. Meningkat/bertambahnya modal saham. Adanya modal saham yang disetorkan atau ditambahkan akan menyebabkan naiknya jumlah kas.

5. Adanya keuntungan perusahaan. Laba yang diperoleh selama operasional perusahaan merupakan sumber kas utama bagi perusahaan untuk operasionalnya. Namun ada sebagian laba yang belum dapat dijadikan kas yaitu saat terjadi penjualan kredit yang belum tertagih dalam periode akuntansi dan menyebabkan naiknya jumlah piutang.

Faktor yang menyebabkan berkurangnya kas atau pengeluaran kas:
1. Bertambahnya aktiva lancar selain kas
2. Bertambhanya aktiva tetap
3. Berkurangnya segala jenis hutang
4. Berkurangnya modal sendiri
5. Adanya kerugian perusahaan
6. Pembagian deviden


D. Penyusunan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas serta Analisisnya
Untuk menganalisis laporan arus kas yang sudah dibuat perusahaan, dapat dilihat dari dua keadaan yaitu:
1. Menganalisis Laporan Arus Kas yang sudah dibuat perusahaan.
2. Melakukan analisis berdasarkan informasi hanya dari laporan neraca dan laba/rugi. Dengan kata lain laporan arus kasnya belum ada.

Contoh analisis laporan arus kas
Untuk menganalisis laporan arus kas, berikut ini disajikan laporan arus kas:
PT Zaki Khameni
Laporan Arus Kas
Untuk tahun yang berakhir tahun 2015
A.    Arus kas dari kegiatan operasional:
Kas Masuk                                            600.000
Kas Keluar                                           (400.000)
Arus kas masuk (keluar) bersih dari kegiatan investasi           200.000 

B.     Arus kas dari kegiatan investasi:
Arus Kas masuk                                    210.000
Arus Kas keluar                                   (300.000)
Arus kas masuk (keluar) bersih dari kegiatan investasi           (90.000) 

C.     Arus kas dari kegiatan pembiayaan:
Arus Kas masuk                                    880.000
Arus Kas keluar                                   (650.000)
Arus kas masuk (keluar) dari kegiatan pembiayaan                230.000 

D.    Saldo kas awal akhir
Kenaikan kas periode ini                                                       340.000
Saldo kas awal periode                                                         420.000
Saldo kas akhir periode                                                     760.000

Dari laporan tersebut dapat kita baca bahwa kenaikan kas pada periode laporan keuangan adalah sebesar Rp. 340.000,00. Arus masuk dari kegiatan operasional Rp. 600.000,00 dan kas keluar Rp. (400.000) sehingga surplus dari kegiatan operasi adalah Rp. 200.000,00. Keadaan ini menunjukkan gambaran yang positif, karena kegiatan operasional perusahaan ternyata menambah dana bagi perusahaan, bukan sebaliknya mengambil dana (deficit).
Sedangkan dilihat dari segi kegiatan investasi yang dilakukan perusahaan adalah bahwa arus kas masuk sebesar Rp 210.000 dan arus kas keluar Rp. 300.000,00 sehingga net investasi keluar adalah sebesar Rp. 90.000,00. Ini menunjukkan bahwa pada periode ini perusahaan banyak menggunakan investasi yang hasilnya diharapkan akan menghasilkan dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan dating.

Dari segi kegiatan pembiayaan sumber dana menunjukkan angka surplus sebesar Rp 230.000,00. Artinya perusahaan mendapat dana berupa utang atau modal untuk pembiayaan investasi dan kegiatan operasionalnya lebih besar dari penggunaan dana untuk pembayaran utang atau deviden serta treasury stock. Dari laporan ini bias juga disebutkan bahwa perusahaan berupaya mendapatkan dana dari pembiayaan (pasar modal dan pasar uang) untuk digunakan dalam investasi. Tetapi jumlah yang diperoleh jauh lebih besar sehingga kas mengalami surplus sebesar Rp 340.000,00.

Analisis melalui data Neraca dan Laba/Rugi
Tahapan dalam menganalisis sumber dan penggunaan dana kas dari neraca dan laba/rugi adalah:
1. Membuat laporan perubahan neraca pada dua periode, serta mencatat perubahan –perubahan yang terjadi pada neraca atau laporan laba/rugi
2. Mengelompokkan perubahan – perubahan yang terjadi pada elemen neraca yang memperbesar dan memperkecil kas
3. Mengelompokkan informasi dari laporan laba/rugi atau laporan perubahan modal yang memperbesar dan memperkecil kas.
4. Membuat konsolidasi dari perubahan yang memperbesar dan memperkecil kas kedalam laporan sumber dan penggunaan dana kas.




Contoh
Laporan Perubahan Neraca
PT. Andalas
Periode 2013 dan 2014
Dalam Ribuan (Rp.000)

No
Uraian
2013
2014
Debit
Kredit
S/P
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Kas
Bank
Piutang
Persediaan
Aktiva lancar lainnya
Tanah
Gedung
Akm. Penyusutan
Mesin
Akm. Penyusutan
Kendaraan
Akm. Penyusutan
Peralatan
Akm. Penyusutan
Aktiva tetap lainnya
Akm. Penyusutan
Hutang Dagang
Hutang Wesel
H. Lancar lainnya
Hutang Obligasi
Modal Saham
Cadangan
Laba Ditahan
900
800
2.800
3.000
600
8.000
12.000
(5.000)
17.500
(10.000)
5.000
(2.000)
3.000
(1.000)
2.000
(500)
4.500
1.000
1.000
10.000
10.000
2.000
8.600
1.000
1.000
2.500
4.000
500
8.000
12.000
(7.000)
20.000
(13.500)
7.500
(3.500)
3.000
(1.250)
2.200
(700)
3.500
1.500
500
8.450
10.000
2.000
9.800
100
200
-
1.000
-
-
-
-
2.500
-
2.500
-
-
-
200
-
1.000
-
500
1.550
-
-
-
-
-
300
-
100
-
-
2.000
-
3.500
-
1.500
-
250
-
200
-
500
-
-
-
-
1.200

P
S
P
S
-
-
S
P
S
P
S
-
S
P
S
P
S
P
P
-
-
S
Jumlah
9.550
9.550

Dari Laporan Neraca tersebut diatas, maka akan ditentukan laporan sumber dan penggunaan kas


Laporan Sumber dan Penggunaan Kas
PT. Andalas
Periode 1 Januari 2014 – 31 Desember 2014
Dalam Ribuan (Rp. 000)

Sumber Kas

1.   Adanya keuntungan operasional   2.200
2.   Penyusutan:
a.       Gedung,                    2.000
b.      Mesin                        3.500
c.       Kendaraan                1.500
d.      Peralatan                      250
e.       Aktiva tetap lainnya      200
3.   Penagihan Piutang                        7.450
4.   Penjualan Aktiva Lancar lainnya      300
5.   Penambahan hutang wesel              500


                                                                .
Jumlah Sumber Kas                   10.550
Penggunaan Kas

1.  Pembayaran Deviden                  1.000
2.  Pembelian Efek                              200
3.  Pembelian Persediaan                 1.000
4.  Pembelian Mesin                        2.500
5.  Penambahan Kendaraan             2.500
6.  Peningkatan Aktiva Tetap
Lainnya                                          200
7.  Pembayaran Hutang Dagang      1.000
8.  Pelunasan Hutang Lancar
Lainnya                                          500
9.  Pelunasan Hutang Obligasi        1.550
Jumlah Penggunaan Kas               10.450
Penambahan Kas                               100
Jumlah                                          10.550

Dari laporan sumber dan penggunaan kas diatas tersebut terlihat bahwa jumlah kas masuk adalah sebesar Rp. 10.550.000,- sedangkan pengeluaran kas selama tahun 2006 adalah sebesar Rp. 10.450.000,-. Karena sumber kas lebih besar daripada penggunaan kas maka menyebabkan nilai kas bertambah sebesar Rp. 100.000,-. 

Sumber :http://makalahshella.blogspot.co.id/2016/03/analisis-sumber-dan-penggunaan-dana-kas.html

TUGAS 4

Biaya modal adalah sebuah konsep dinamis yang dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor ekonomi dan perusahaan. Struktur dasar dari biaya modal...